Metode Farmakologi 3

Pengujian in vitro Anti TB "Wayne Assay"


    Uji Wayne digunakan untuk menguji aktivitas senyawa anti TB terhadap M. tuberculosis yang tidak bereplikasi dalam kondisi hipoksia (kekurangan oksigen). Faktor virulensi utama TB adalah kemampuan untuk memasuki keadaan laten atau Non-Replicating Persistent (NRP) yang dianggap tidak dapat diobati. Sebab yg orang terinfeksi TB secara laten dan pada pengaktifan kembali dari infeksi ini dapat resistan terhadap obat. Sistem kekebalan berupaya mengendalikan infeksi TB dengan menahan bakteri dalam granuloma, di mana ia terpapar pada kondisi anaerobik dan kekurangan nutrisi yang membuat stres. Diperkirakan kondisi lingkungan inilah yang memicu keadaan NRP. Maka dari itu model in vitro wayne dikembangkan untuk meniru kondisi di dalam granuloma.

Link youtube Metode Farmakologi 3

"Wayne Assay untuk pengujian in vitro senyawa anti TB"

https://youtu.be/w5i_7huLVug



Comments

  1. Tadi dijelaskan bahwa pengujian Wayne pada bakteri MTB ini dilakukan dalam tabung tertutup, sehingga oksigen dalam tabung akan habis secara perlahan. Apakah ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau yang dapat menghambat oksigen habis secara perlahan dan bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Faktor kemungkinan yang bisa mempengaruhi atau memperlambat penipisan oksigen itu diantaranya ada suhu, waktu inkubasi, atau tabung biakan yang tidak tertutup rapat. Maka dari itu untuk mengatasi agar penipisan okisgen ini benar-benar berjalan optimal kita harus memastikan suhunya itu stabil untuk bakteri berkembang biak, biasanya digunakan suhu inkubasi 37°C, kemudian mengontrol waktu inkubasinya, sama memastikan tabungnya tertutup dengan rapat untuk memastikan kekencangan udara yang dimana mulut labu perlu diikat kuat dengan karet septum dan kalau perlu dibungkus rapat dengan Parafilm dan terakhir dipastikan pula tidak ada kerusakan atau retak pada tabung kultur.

      Delete
  2. Pengujian bakteri MTB pada Wayne Assay ini melewati 2 keadaan yaitu NRP 1 dan NRP 2. Kemudian dijelaskan bahwa biasanya yang digunakan dalam riset adalah keadaan pada NRP 2. Mengapa riset tersebut harus menggunakan NRP tahap 2 dan apa yang akan terjadi jika menggunakan NRP tahap 1?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi seperti ini, kan model ini model wayne dibuat untuk meniru/mensimulasikan keadaan lingkungan bakteri TB ketika ia berada di dalam granuloma. Nah, salah satunya yakni ada kondisi hipoksia (kekurangan O2) yg dapat terjadi di lingkungan granuloma tsb. Nah dari kondisi hipoksia ini bakteri itu beradapatasi menjadi bakteri yg NRP (non-replicating resistant) atau bisa dibilang dia dpt membuat dirinya resisten thd obat TB biasa. Lalu, knp bisa banyak riset yg lebih memilih kondisi NRP tahap 2, karena pada keadaan NRP tahap 1 itu saturasi oksigen sebesar 1% lalu selanjutnya pada NRP tahap 2 saturasi oksigen menurun hingga dibawah 1%, nah kondisi inilah yg membuat byk peneliti lebih memilih keadaan NRP tahap 2 karena NRP tahap 2 yg punya saturasi O2 dibawah 1% lebih mencerminkan atau mendeskripsikan scr akurat keadaan NRP bakteri TB pada kondisi anaerobik penuh yg ada pada granuloma ketimbang NRP 1 yg dimana bakteri ketika memasuki kondisi NRP tahap 1 itu bakterinya masih bersifat mikroaerofilik masih blm anaerobik dia. Jadi sekali lg untuk bisa mencerminkan keadaan anaerobik bakteri TB pada granuloma dalam pengujian lebih baik menggunakan keadaan NRP tahap 2.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa bakteri MTB dapat melalui 2 keadaan yaitu keadaan bereplikasi dan tidak bereplikasi. Saat bereplikasi, bakteri mempunyai kekuatan yang lebih kuat dibandingkan dengan sistem imun tubuh penderita sehingga bakteri dapat memperbanyak dirinya. Sedangkan saat tidak bereplikasi, bakteri kalah kuat dengan sistem imun tubuh penderita, sehingga bakteri tidak bisa bereplikasi. Dari pernyataan dalam video disebutkan bahwa pengujian in vitro anti TB masing-masing punya model uji yang berbeda. Mengapa hal tersebut bisa berbeda?? Mengapa tidak bisa mengujikan model in vitro bakteri MTB yang tidak bereplikasi pada bakteri yang bereplikasi ataupun sebaliknya? Bukankah bakteri yang digunakan sama yaitu Mycobacterium tuberculosis??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Model pengujian untuk bakteri yang bereplikasi dan tidak bereplikasi tentu berbeda antara satu sama lain. Karena begini obat anti TB yang kita ketahui itu ada Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol, obat-obatan tersebut merupakan obat anti TB untuk TB aktif yang bakterinya itu sudah terlampau bereplikasi. Nah, obat-obatan tersebut dia tidak mempan jika diberikan kepada bakteri TB yang laten. Kenapa bisa? Karena bakteri TB ini dia punya kemampuan untuk memasuki keadaan laten atau NRP (Non-Replicating Persistent) yang dimana kondisi ini dianggap tidak dapat diobati. Sebab yg orang terinfeksi TB secara laten dan pada pengaktifan kembali dari infeksi ini dapat resistan terhadap obat. Dia bisa resisten terhadap obat-obatan anti TB karena sistem kekebalan pada awalnya mengendalikan infeksi TB dengan menahan bakteri dalam granuloma, di mana ia terpapar pada kondisi anaerobik dan kekurangan nutrisi yang membuat stres. Lewat kondisi lingkungan inilah yang memicu keadaan bakteri menjadi NRP atau dia resistent terhadap obat-obatan konvensional biasa. Maka dari itu model pengujian in vitro obat anti-tb dibedakan berdasarkan apakah ia bereplikasi atau tidak bereplikasi

      Delete
  5. Dapat saya simpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau menghambat penipisan oksideng adalah suhu, waktu inkubasi, dan kondisi tabung pengujian. Untuk mengatasinya yaitu dengan menjaga suhu untuk tetap stabil dan mengontrol waktu inkubasinya serta memastikan kondisi tabung pengujian dalam keadaan yang baik, tidak bocor, dan tertutup rapat. Kemudian mengapa banyak riset menggunakan kondisi NRP 2 karena saturasi oksigennya di bawah 1% yang mencerminkan keadaan NRP bakteri TB pada kondisi anaerobik penuh yang ada pada granuloma dibanding kondisi NRP 1, yang mana pada kondisi NRP 1 bakterinya masih bersifat mikroaerofilik. Selanjutnya model pengujian untuk bakteri MTB yang bereplikasi dan tidak bereplikasi berbeda karena obat anti TB seperti Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol merupakan obat anti TB untuk bakteri TB yang bereplikasi. Sehingga obat-obat tersebut tidak dapat diberikan pada bakteri TB laten. Bakteri TB yang tidak bereplikasi mempunyai kemampuan untuk resistan terhadap obat anti TB jika bakteri tersebut aktif. Karena itulah model pengujian in vitro anti TB antara bakteri yang bereplikasi dan tidak bereplikasi harus dibedakan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts